logo alinea.id logo alinea.id

Angka stunting dari 2015 sampai 2018

Angka stunting di Indonesia cenderung menurun. Namun, persentasenya masih di atas ambang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Fultri Sri Ratu Handayani
Fultri Sri Ratu Handayani Jumat, 16 Agst 2019 17:52 WIB
logo alinea
<div class="embed-responsive embed-responsive-16by9"><iframe class="heightclass" frameborder="0" id="embed-responsive-item" scrolling="No" src="https://data.alinea.id/vertikalbar/2019/08/16/823/823" width="100%"></iframe></div>
Berhasil Dicopy

Indonesia diperkirakan bakal menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dalam beberapa tahun mendatang. PricewaterhouseCoopers (PWC), misalnya, memprediksi ekonomi Indonesia akan masuk dalam lima besar dunia pada 2030, bahkan menjadi ke-4 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2050 nanti. Jika perkiraan itu terjadi, posisi Indonesia hanya ada di bawah Tiongkok, India dan Amerika Serikat. 

Prediksi tersebut didasarkan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil, dan populasi yang besar. Dari komposisi usia penduduk, pada 2030 sebesar 70% berusia 15-64 tahun atau berada dalam masa produktif. Komposisi ideal ini disebut sebagai bonus demografi. Kelompok usia produktif inilah yang akan menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Jumlahnya mencapai 180 juta jiwa. 

Pencapaian prediksi itu mensyaratkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Masalahnya, saat ini persentase balita stunting masih tinggi. Alih-alih mendapatkan berkah, bonus demografi boleh jadi akan menjadi bencana bagi Indonesia. Angka stunting dari tahun ke tahun memang cenderung turun. Tapi empat tahun terakhir kondisinya stagnan.

Stunting pada 2015 mencapai 29%, turun dari posisi 2013 yang mencapai 37,2%. Sempat turun di tahun 2016, angka stunting kembali naik pada 2017 dan 2018. Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, angka stunting mencapai 30,8%, di atas batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO): 20%.