logo alinea.id logo alinea.id

Defisit APBN sejak 2014

Pandemi Covid-19 membuat defisit APBN keluar dari zona aman.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Senin, 14 Sep 2020 07:22 WIB
logo alinea
<div class="embed-responsive embed-responsive-16by9"><iframe class="heightclass" frameborder="0" id="embed-responsive-item" scrolling="No" src="https://data.alinea.id/line/2020/09/14/1657/1657" width="100%"></iframe></div>
Berhasil Dicopy

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, defisit anggaran dibatasi maksimal 3% dari produk domestik bruto (PDB). Namun, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2020 terpaksa menembus level aman tersebut.

Pasalnya, pandemi Covid-19 telah berimbas pada penurunan pendapatan negara. Di sisi lain, belanja negara mengalami peningkatan drastis sehubungan dengan melonjaknya anggaran penanganan Covid-19. Presiden Jokowi pun sudah resmi memperlebar defisit dalam APBN 2020 menjadi Rp1.039,2 triliun atau 6,34% dari PDB. Langkah pelebaran defisit anggaran tersebut bertujuan untuk penanganan pandemi yang telah mengancam perekonomian nasional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pada awalnya, defisit APBN 2020 direncanakan sebesar 1,76% dari PDB, terendah dalam lima tahun terakhir.  "Namun demikian, upaya penanganan Covid-19 beserta dampaknya mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pelebaran defisit sampai dengan 6,34% dari PDB di tahun 2020," ungkapnya dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta, Selasa(1/9/2020).

Menurutnya, ketidakpastian akibat pandemi Covid-19 sangat mungkin masih berlanjut tahun depan, sehingga penerimaan pajak maupun PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) masih akan mengalami tekanan.