logo alinea.id logo alinea.id

Jumlah konsumen rokok dari kalangan rumah tangga miskin tahun 2013-2018

Jumlah konsumen rokok dari kelompok keluarga miskin relatif stabil. Sempat menurun pada 2016 dan 2017, tapi naik lagi pada 2018.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Jumat, 14 Jun 2019 18:00 WIB
logo alinea
<div class="embed-responsive embed-responsive-16by9"><iframe class="heightclass" frameborder="0" id="embed-responsive-item" scrolling="No" src="https://data.alinea.id/doughnut/2019/06/14/445/445" width="100%"></iframe></div>
Berhasil Dicopy

Rokok memberikan sumbangan yang cukup besar pada garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), rokok menempati posisi kedua dalam pengeluaran masyarakat miskin di Indonesia. Pengeluaran untuk rokok hanya kalah dari belanja beras. 

Karena itu, seperti beras, rokok menjadi komoditas penting yang memberikan pengaruh besar terhadap garis kemiskinan. Menurut data BPS, jumlah konsumsi tembakau di kelompok keluarga miskin jauh lebih tinggi dibanding mereka yang ada pada kelompok kaya. Jumlah ini juga lebih besar dibandingkan pada kelompok kaya.

Selama enam tahun terakhir (2013-2018), jumlah konsumen rokok dari kelompok keluarga miskin relatif stabil. Sempat menurun pada 2016 dan 2017. Namun, jumlah konsumen rokok dari kelompok ini kembali naik pada 2018.