logo alinea.id logo alinea.id

Jumlah rumah sakit khusus kanker dan tempat tidur periode 2015-2018

Jumlah rumah sakit khusus kanker di Indonesia tak banyak.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Senin, 13 Jan 2020 19:10 WIB
logo alinea
<div class="embed-responsive embed-responsive-16by9"><iframe class="heightclass" frameborder="0" id="embed-responsive-item" scrolling="No" src="https://data.alinea.id/horizontalbar/2020/01/13/949/949" width="100%"></iframe></div>
Berhasil Dicopy

Sebuah studi menyebutkan, setiap tahun diperkirakan Indonesia mengalami kerugian US$48 miliar lantaran pasien kanker berobat ke luar negeri. Pengobatan kanker di Indonesia masih terkendala minimnya alat radiasi.

Infrastruktur rumah sakit, terutama alat radiasi, membutuhkan waktu, perencanaan, dan dana tak murah. Satu radioterapi membutuhkan biaya Rp50 miliar.

Beberapa daerah, seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), Aceh, dan Pontianak masih dalam proses pengadaan alat radiasi. Belum lagi masalah persebaran dokter spesialis di Indonesia yang tak merata.

Di Indonesia, rumah sakit khusus kanker pun tak banyak. Selain Dharmais, ada Rumah Sakit MRCCC Buliding of Hope Siloam Semanggi. Akan tetapi, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, dalam empat tahun terakhir, jumlah tempat tidur di masing-masing rumah sakit khusus kanker mengalami kenaikan.