logo alinea.id logo alinea.id

Perkembangan sukuk korporasi melalui penawaran umum

Pendanaan sukuk masih relatif kecil dibandingkan obligasi konvensional.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Jumat, 27 Agst 2021 16:01 WIB
logo alinea
<div class="embed-responsive embed-responsive-16by9"><iframe class="heightclass" frameborder="0" id="embed-responsive-item" scrolling="No" src="https://data.alinea.id/horizontalbar/2021/08/27/2197/2197" width="100%"></iframe></div>
Berhasil Dicopy

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan komitmen pemerintah terhadap perkembangan pasar modal syariah. Ini dilakukan dengan meningkatkan kedalaman dan likuiditas sektor keuangan syariah. 

"Penerbitan surat berharga syariah negara atau sukuk negara merupakan salah satu manifestasinya," katanya beberapa waktu lalu.  

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2021, aset saham syariah telah mencapai Rp3.372,2 triliun. Porsinya setara dengan 47,32% dari total kapitalisasi indeks harga saham Indonesia. 

Adapun untuk obligasi syariah (sukuk) meski mengalami kenaikan dari tahun ke tahun namun porsinya jauh lebih kecil dibandingkan penerbitan obligasi konvensional.

Direktur Jasa Keuangan Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Taufik Hidayat kepada Alinea.id pun tak menampik masih minimnya jumlah penerbitan surat utang syariah terutama pada sektor korporasi. 

Dia menjelaskan, porsi sukuk korporasi dengan outstanding Rp31,89 triliun memang terbilang sangat kecil, dibandingkan sukuk negara yang sudah mencapai Rp980 triliun pada Desember 2020.