logo alinea.id logo alinea.id

Perkembangan utang BUMN

Utang BUMN terus meningkat dari tahun ke tahun.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Senin, 03 Mei 2021 16:23 WIB
logo alinea
<div class="embed-responsive embed-responsive-16by9"><iframe class="heightclass" frameborder="0" id="embed-responsive-item" scrolling="No" src="https://data.alinea.id/horizontalbar/2021/05/03/2049/2049" width="100%"></iframe></div>
Berhasil Dicopy

Peneliti BUMN Research Group Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (LMFEB-UI) Toto Pranoto menguraikan, selain pagebluk Covid-19, tekanan utang dan biaya bunga yang cukup tinggi menjadi penyebab BUMN Karya berdarah-darah di tahun lalu. 

“Karena struktur pembiayaan proyek-proyek karya banyak didominasi pembiayaan utang, obligasi atau utang komersial bank,” urainya kepada Alinea.id, Senin (3/5). 

Waskita Karya contohnya, harus merugi karena membayar beban biaya bunga pinjaman tahun lalu hingga Rp4,5 triliun. 

Toto bilang, dengan besarnya beban utang dan biaya bunga bank yang harus ditanggung perseroan, restrukturisasi keuangan atau utang jelas menjadi prioritas untuk menyembuhkan kondisi BUMN Karya yang sudah tak sehat.