logo alinea.id logo alinea.id

Persentase perusahaan yang mengurangi karyawan saat pandemi

Industri pengolahan tercatat paling banyak melakukan PHK.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Jumat, 18 Sep 2020 17:53 WIB
logo alinea
<div class="embed-responsive embed-responsive-16by9"><iframe class="heightclass" frameborder="0" id="embed-responsive-item" scrolling="No" src="https://data.alinea.id/horizontalbar/2020/09/18/1673/1673" width="100%"></iframe></div>
Berhasil Dicopy

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi upaya terakhir yang dilakukan dunia usaha untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19. Sebagian di antara mereka memilih melakukan adaptasi dan mempertahankan tenaga kerjanya meski aktivitas perusahaan sangat terdampak.

BPS juga mencatat, sebanyak 84% responden mengalami penurunan pendapatan sejak pandemi Covid-19 terjadi. Akomodasi dan makanan minuman menjadi sektor yang terdampak paling signifikan. Selain itu, 92,47% dari responden yang bergerak di sektor ini menyatakan mengalami penurunan pendapatan curam.

Data ini didapatkan dari survei Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap 34 ribu lebih pengusaha Usaha Mikro dan Kecil (UMK) serta Usaha Menengah dan Besar (UMB) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Survei dilakukan pada 10 hingga 26 Juli.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, sebanyak 30% UMK dan 47% UMB melakukan langkah pengurangan jam kerja sebagai bentuk adaptasi di tengah pandemi. "Keputusan untuk PHK cenderung menjadi langkah terakhir yang diambil pelaku usaha, baik UMK dan UMB," katanya dalam konferensi pers secara  virtual, Selasa (15/9).

Adaptasi lain yang dilakukan dunia usaha adalah diversifikasi usaha untuk bertahan pada masa pandemi. Survei BPS menunjukkan, sebanyak 16% dari responden UMK dan 11% responden UMB melakukan penambahan produk dan lokasi usaha selama pandemi.