logo alinea.id logo alinea.id

Proporsi pembangkit listrik tenaga EBT kuartal I 2020

Porsi terbesar berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Jumat, 31 Jul 2020 18:09 WIB
logo alinea
<div class="embed-responsive embed-responsive-16by9"><iframe class="heightclass" frameborder="0" id="embed-responsive-item" scrolling="No" src="https://data.alinea.id/horizontalbar/2020/07/31/1547/1547" width="100%"></iframe></div>
Berhasil Dicopy

Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) terus mendorong sistem energi masa depan yang bersih dan berkesinambungan berbasis EBTKE. Dalam dokumen strategi pengembangan EBT, tercatat masih ada gap target kebutuhan dan kapasitas pembangkit listrik tenaga (PLT) EBT.

Pemerintah menargetkan PLT EBT mencapai 23% tahun 2025 . Untuk itu, diperlukan kapasitas PLT EBT berkembang menjadi 27.687 Mega Watt (MW) pada tahun 2025, namun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN hanya menargetkan 23.578 MW. Sehingga ada gap kapasitas PLT EBT sekitar 4.109 MW.

Kementerian ESDM sudah menyusun strategi pengembangan EBT. Salah satunya pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara massif. Program tersebut antara lain pengembangan PLT Surya Atap selaras dengan pembangunan perumahan rakyat melalui sinergi dengan KPUPR, Perum Perumnas, BTN, BUMN, dan swasta.

Kemudian, ada pula pengembangan Proyek Energi Surya Atap Nusantara melalui sinergi dengan Kementerian/Lembaga terkait, BUMN/BUMD, dan swasta. Pengembangan proyek PLTS untuk cold storage melalui sinergi dengan KKP, BUMN (LEN, PLN) dan swasta, dan pengembangan proyek pengadaan PLTS skala masif bekerja sama dengan ADB